
Kuliah Kenangan Guru Ekonomi Selama Lima Dasawarsa @ ( 1958 – 2008 )
oleh : H.Soeharsono Sagir
Bismillahhirrohmannirohiim, Hari ini merupakan puncak kebahagian bagi saya beserta isteri, ditambah dengan ” barisan” : Tujuh anak – menantu dan Sebelas Cucu, plus clan SUNDA ( garis ayah ), JAWA ( garis ibu ), SUMBAR ( garis mertua ), KALBAR garis mertua), dapat bersama – sama mensyukuri kenikmatan SEHAT dan hadir bersama :
1) Bapak DR H.M Sudomo, yang telah mendorong saya menjadi Guru Ekonomi Ekonomi Paripurna ( 1978 – 1998 ), tahun – tahun dimana orang tidak berani mengemukakan pendapat solusi alternatif yang lebih baik,
2) Prof.DR Emil Salim, salah seorang GURU saya di Fakultas Ekonomi UI ( 1956 ), dari beliaulah saya engetahui bahwa Perusahaan Besar jangan menjadi ENCLAVE ditengah – tengah samudra kemiskinan,yang tidak lain merupakan anjuran agar Kawasan Industri Besar memiliki kepekaan Corporate Social Responsibility,
3) Ibu Dekan Fakultas Ekonomi dan jajaran pimpinan Fakultas, para Guru Besar Emiritus dan Guru Besar aktif, para Guru – Dosen purna wira, maupun yang masih aktif,Keluarga Besar Fakultas Ekonomi UNPAD, dimana saya tidak hanya dibesarkan,tetapi ikut membesarkan,
4) Bapak H.Syafik Umar,Pemimpin / Dirut PIKIRAN RAKYAT, yang turut membesarkan saya sebagai Penulis,Kolumnis Ekonomi,Penyumbang Editorial ( Tajuk Rencana ) selama empat dasawarsa (1968 – 2008), melanjutkan kepemimpinan PR Group : Bapak Sakti Alamsah, Atang Ruswita dan Soeharmono Tjitrosoewarno,ktiga – tiganya telah almarhum,
5) Bapak Drs H.Zubaidi, Penerbit PRENADA MULTI MEDIA yang bersedia menerbitkan Buku Kapita Selekta, Lima Dasawarsa sebagai Guru Ekonomi, 6) Para Sahabat Penulis yang telah menyumbang untuk melengkapi Buku Kapita Selekta, Lima Dasawarsa Pengabdian sebagai Guru Ekonomi, 7) Para Cendekiawan, Kolega, Sahabat : ITB, UI, GAMA ,UNDIP,UNAIR, UNBRA,UNPAR,UNISBA,UNPAS,WIDIYATAMA,STIA–LAN,UPS Tegal UNSWAGATI Cirebon , Perguruan Tinggi dimana saya pernah ikut berkiprah ;Cendekiawan SESKO : AD,AL,AU, TNI, SESPIM POLRI, LEMHANNAS WANTANNAS ; dimana saya ikut berkiprah menjadi Guru non Militer 8) Teman 2 Sekolah ” voor de oorlog ” HIS, Sekolah Rakyat Tegal 1941 – 1943 9) Teman 2 SMP Tegal, Yogya, Sala, Semarang ( 1947 – 1951 ) 10) Teman 2 SMA Bandung ( 1951 – 1954 ) 11) Teman 2 Mahasiswa FE UI ( 1954 – 1958 ) 12) Fellow Rotarian Bandung Dago, 13) Teman – teman Pemain Golf PELITA dan SENIORS GOLFERS, 14) Teman – teman bersantai Penggemar Bridge, 15) Hadirin Undangan sekalian, yang tidak dapat lagi saya sebut satu persatu
Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarukatuh,
Izinkanlah saya terlebih dahulu membacakan definisi Cendekiawan yang menjadi pedoman hidup saya sebagai Guru,Pengamat dan Kolumnis Ekonomi Selama Lima Dasawarsa,sebagai berikut : Cendekiawan – Intelektual ( Manusia Modal )
1. Cendekiawan adalah Manusia yang berani mengingatkan pemimpin yang salah,bertindak tidak : cerdas , jujur, ,arif dan adil ; melalui cara : lisan, tulisan,teguran atau peringatan keras dan / atau memanjatkan doa, memohon kepada Allah SWT agar Pempimpin dapat kembali pada jalan yang benar : cerdas , arif, jujur dan adil – jika lisan,tulisan atau teguran tidak berani dilakukan – walaupun berdoa,merupakan sikap cendekiawan yang paling lemah ( Tafsir Alquran dan Hadits, Soeharsono Sagir, 17 Januari 2004 ) Catatan H.Soeharsono Sagir : Oleh karena saya diberi amanat oleh Allah SWT – sebagai Cendekiawan – maka saya memilih menegur Pimpinan yang salah, melalui tulisan (menegur keras ) karena saya berpendapat : kita harus berani dan percaya diri,asal kita ada dijalan yang benar,akan dilindungi Allah SWT.
2. Cendekiawan pada dasarnya merupakan pengkritik masyarakat,seorang yang pekerjaannya mengidentifikasi, menganalisa untuk kemudian memberikan solusi pemecahan – alternatif yang lebih baik. Cendekiawan turut serta membantu untuk mengatasi rintangan jalan yang menghambat tercapainya masyarakat yang lebih baik,lebih berperi kemanusiaan,adil, beradab dan rasional. Dengan demikian Cendekiawan akan mewakili suara hati nurani masyarakat dan menjadi juru bicara dari kekuatan moral progresif yang terdapat dalam setiap periode tertentu dalam sejarah kemanusiaan. Konsekuensinya Cendekiawan,mau tidak mau,suka tidak suka,harus siap dianggap sebagai pengacau yang menjengkelkan para Penguasa ( the establishment ) Paul Baran – Widjojo Nitisastro,ITB 1966 ( Soeharsono Sagir, 17 Januari 2004 ) Catatan khusus pengalaman sebagai Cendekiawan dari Pak Domo : ” Pada waktu saya menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja pernah dipanggil oleh Presiden Soeharto – karena statement kritik yang keras mengenai ekonomi nasional – meminta kepada saya agar memberhentikan Sdr Soeharsono Sagir sebagai Staf Ahli Menaker. Saya janjikan kepada Presiden, tetapi tidak saya lakukan karena setelah diteliti pendapat Soeharsono Sagir mengandung kebenaran ” /
3. Peran Cendekiawan yang utama melalui tulisannya,adalah : How to raise living standards and give the people some hope of better life ( ” Upaya bagaimana meningkatkan mutu kehidupan manusia serta memberikan pada rakyat harapan untuk dapat mencapai kehidupan yang lebih baik ” ) Barbara Ward, 1961 ( Soeharsono Sagir, KASI – UNPAD BERJUANG , 1966 ) 4. Jadilah anakku sebagai Guru, Intelektuil , sekaligus Public Opinion Leader; tidak hanya sekedar menjadi Guru diruang kuliah,tetapi juga mampu menjadi tempat masyarakat bertanya , mengenai Ekonomi Indonesia yang benar itu bagaimana seharusnya ( H.Sagir Prawiradidjaja, 17 Januari 1968 ) Dengan mengulang apa yang menjadi pedoman hidup dalam berkarya sebagai Guru Ekonomi, yang saya tekuni sejak mendapat kuliah Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo ( Ekonomi Pembangunan, FE UI 1956 ), kemudian dilanjutkan asisten beliau : Widjojo Nitisastro , Emil Salim, Marsudi dan Marjono Danuseputro saya sepenuhnya mulai menyadari bahwa Masalah Ekonomi Indonesia, yang kita hadapi adalah : Bagaimana memecahkan masalah Kemiskinan, Kebodohan, yang harus dimulai dengan mencari jalan keluar dari perangkap Kemiskinan ( Poverty Trap ) dan Kebodohan ( Underdevelopment Trap ) / yang pada hakekatnya sudah tertulis sebagai Amanat Penderitaan Rakyat , baik dalam Alquran dan Hadits maupun dalam Pembukaan Undang – Undang Dasar 1945. Musuh terbesar Umat Manusia,adalah Kemiskinan dan Kebodohan miskin karena bodoh atau sebaliknya bodoh karena miskin ; oleh karena itu Umat Manusia diperintahkan untuk IQRA ( membaca ) dan IJTIHAD, mengumpulkan informasi,menganalisa,dan melakukan pencerahan terus menerus, hingga kita dapat keluar dari kebodohan dan kemiskinan ; karena nasibmu, nasib umat manusia tergantung pada upaya umat itu sendiri,sesuai dengan petunjuk Allah SWT,maka carilah Ilmu sebanyak – banyaknya sampai kenegeri Cina / Kalimat Pembukaan UUD 1945, mengamanatkan pada kita bahwa mengisi kemerdekaan , sasarannya adalah : 1) Membebaskan Rakyat dari Kemiskinan – Meningkatkan Kesejahteraan Umum – Setiap warganegara berhak atas pekerjaan ( kesempatan kerja ) dan kehidupan yang layak ( pasal 27,ayat 2 ) 2) Membebaskan Rakyat dari Kebodohan – Mencerdaskan Kehidupan Bangsa – karena hanya Manusia yang cerdas dan terdidik akan mampu mencapai kehidupan yang lebih baik ( ” If You plan a year, Plant a seed,if for ten years plant a tree, if for hundred years teach the pepople , because if you teach the people,you will reap a handred harvest , K’uan T’zu 500 BC ” Give the people a handout or a tool ,and they live a litle better , When you give education ,they will change the world ” ( anonym, Sagir ESDM 1983/84 ) 3) Membebaskan Rakyat ( Negara ) dari penjajahan ( modal asing ) atau ketergantungan pada Utang Luar Negeri ( Debt Trap ) yang sejak tahun 1967 ( orde baru ) sampai saat ini belum dapat diselesaikan,bahkan nyaris defaut, karena defisit APBN yang berkelanjutan,hingga tidak saja memperbesar Utang Luar Negeri ( ” Gali Lubang Tutup Lubang ” ) yang berlanjut, terpaksa menjual aset nasional ( privatisasi BUMN dan ”go Internasional ” ) demi menutup defisit APBN. Sebenarnya apa yang diamanatkan oleh UUD 1945, tidak akan berdampak keterpurukan ekonomi berkepanjangan sejak 11 Juli 1997 yang berlanjut dengan krisis ekonomi Global 2008, jika kebijaksanaan pembangunan dari semula terkait antara Mengejar Pertumbuhan Ekonomi Tinggi ( Peningkatan Pendapatan Nasional ) didukung oleh : 1) Perluasan Kesempatan Kerja, pemerataan pendapatan masyarakat 2) Perkembangan Harga dan Nilai Tukar yang Stabil, terkendalinya inflasi dan depresiasi Rupiah,3) Neraca Pembayaran yang favorable ( ekspor > impor ), cadangan devisa meningkat dari surplus neraca perdagangan ; bukan bersumber dari surplus neraca berjalan,yang terutama didukung oleh arus modal luar negeri ( Utang dan PMA )
4) Sektor Moneter Perbankan yang Prudent dan Sehat ; fungsi intermediasi perbankan berjalan lancar, mentaati rambu – rambu perbankan yang dikeluarkan Bank Indonesia, memenuhi ketentuan CAR,LDR,L3,NPL dan GWM ; tidak terjadi informasi asimetrik dan moral hazard.
5) Manusia Modal, SDM yang memenuhi krteria : terdidik dan terlatih DIKLAT bermutu, profesional, disiplin, produktif, inovatif – kreatif ,motivated,kompeten dan kompetitif ; tidak hanya mampu mengisi lowongan kerja atau diberi pekerjaan,tetapi mampu bekerja mandiri dan menciptakan kerja untuk orang lain ( bukan hanya job seeker tetapi mampu menjadi job creator,entrepreneur )
6) Menjaga kelestarian Sumber Daya Alam, air, darat, laut, udara, tidak tercemar ,rusak , agar ketahanan dan kelangsungan pembangunan ekonomi nasional tercapai(sustainable development) Enam dukungan terhadap Pertumbuhan Ekonomi Tinggi inilah yang dimaksud dengan Fundamental Ekonomi Kuat, agar mampu memasuki era Global – Pasar Bebas ASEAN , APEC, ECM ; maka Kondisi Fundamental kuat tersebut didukung oleh Competitive Nation yang sustainable , competent dan ber – value added , dalam : 1) Ekonomi Domestik yang sehat dan kuat, 2) Kondisi Rakyat ( SDM ) yang menguasai IPTEK 3) Management Sektor Bisnis sehat, tanpa moral hazard, 4) Kualitas SDM prima , sebagai manusia unggul, kompeten dan kompetitif 5) Good Government , bersih dari KKN 6) Jasa dan komoditi yang memenuhi Standar Internasional ( ISO – WTO ), hingga unggul dalam daya saing Global. 7) Infrastruktur prima: jaringan jalan , laut, udara , enerji , listrik dan komunikasi. 8) Finansial yang sehat dan kuat, APBN tidak defisit berkepanjangan dan sektor moneter – perbankan yang prudent dan sehat. Apa yang menjadi ” Das Sollen ” tersebut diatas, sebenarnya sudah dimaklumi oleh pengambil keputusan ( Eksekutif ), Legislatif maupun para Cendekiawan dan Pemerhati Masalah Ekonomi Indonesia , karena sudah ada warning baik dari Perorangan, maupun Lembaga Internasional, diantaranya telah diketahui maupun menjadi referensi ,rujukan dan arahan dalam Kebijakan Ekonomi Jangka Pendek, Menengah maupun Kebijakan Strategis Jangka Panjang , diantaranya : 1) In the 1970’s it was increasingly recognised that economic growth alone will not reduce absolute poverty at an acceptable speed ; laju pertumbuhan ekonomi ( tinggi ) tidak dengan sendirinya mampu memecahkan masalah kemiskinan absolut. / Hal inipun telah diakui dan disinggung oleh Presiden Soeharto : ” Dalam rangkaian Pelita I sampai dengan III, saya merasa prihatin,oleh karena sebagai Presiden / Mantarais MPR saya belum berhasil memecahkan masalah Kesepatan Kerja dan Pengangguran ; padahal masalah kesempatan Kerja dan Kehidupan yang layak merupakan hak setiap warganegara yang dijamin oleh UUD 1945,khususnya disebut dalam Pasal 27 ayat 2 ” / 2) Mohammad Yunus ( Grameen Bank, 1974 ) , telah mengingatkan kita bahwa kemiskinan tidak dapat dipecahkan melalui santunan bagi si Miskin, sebab sekali si Miskin dibantu,mereka akan tetap meminta bantuan,karena bantuan dianggap HAK bagi si Miskin,mereka akan antri meminta haknya ; hak si Miskin adalah di – berdaya – kan agar bebas dari kemiskinan,bukan disantuni. Proses pembangunan akan mandeg jika simiskin dibiarkan sebagai kelompok penerima sedekah. Memberi sedekah kepada si Miskin akan merampas inisiatif si Miskin,mengkerdilkan inisiatifnya dan akan merampas harga dirinya.Berikan pada simiskin Kredit Mikro ,sesuai dengan kemampuan nya,terutama Perempuan agar mampu memberikan bagi anak – anaknya makanan bergizi melalui Social Business Entrepreneurship. / 3) Baik dari ajaran Islam maupun pengamatan pribadi dalam rangka pengentasan kemiskinan, saya tidak setuju dengan kebijakan pemerintah yang memberi Bantuan Tunai Langsung ( BTL ) kepada kelompok miskin ; karena cara santunan kepada rakyat miskin,hanya berdampak semakin besarnya jumlah mereka yang memnita haknya sebagai kelompok miskin ( jumlah antrean makin panjang ) dan pendaftar mereka yang menganggap dirinya miskin,antre untuk meminta haknya pada RT ,RW dan Camat setempat. Menurut saya berilah si Miskin Kailnya ( DIKLAT dan Sarana ) bukan IKAN – nya ( BTL ) yang tidak mendidik. 4) Khusus mengenai Indonesia laporan Bank Dunia ( Report no 3307 IND.April 1981 ) menyebut : “ Although the level of growth in Indonesia is much higher than that almost low income countries, it mask existing dimensions of poverty, limited acces to basic services and the need for more productive utilization of Indonesia’s most important development resource it large and rapidly growing labor force “ Meskipun Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi – lebih tinggi dari rata – rata Negara berkembang – namun kemiskinan ,tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, mensyaratkan perlunya tenaga kerja ( SDM ) dikerahkan sebagai sumber daya ekonomi yang produktif, karena tenaga kerja Indonesia, bukan saja dalam jumlah besar,tetapi bertambah dengan cepat dan tidak produktif.
5) Catatan : Andaikata pengakuan Presiden Soeharto dan ” warning” Bank Dunia (1981) masalah kemiskinan dan kesempatan kerja menjadi fokus prioritas kebijakan ekonomi pemerintah,maka negara kita tidak mengalami Krisis Ekonomi berkepanjangan yang berlanjut sampai saat ini ( 2008 – 2009 ) Sebab dalam laporan Bank Dunia pada tahun yang sama ( 1980 ) telah digaris bawahi bahwa Kebijakan Ekonomi,harus terarah pada sasaran: ”Increasing Employment,meeting the basic needs of the people,reducing inequalities in income and wealth and raising the productivity of the poor ” Upaya untuk memperluas Kesempatan Kerja Produktif, hingga rakyat mampu memenuhi kebutuhan dasar dan mengurangi kesenjangan sosial, telah menjadi Kebijakan utama khususnya DEPNAKER dibawah kepemimpinan Sudomo ( 1983 – 1988 ), namun sayang tidak sinkron dengan kebijakan Departemen teknis terkait. ” Industrialisasi yang dilaksanakan pemerintah,tidak mungkin menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup untuk masyarakat yang memasuki pasar kerja ; karena berbagai faktor. Oleh karena itu perlu digalak kan sektor informal atau usaha mandiri yang mampu menciptakan lapangan kerja. Untuk ini saya telah mengeluarkan statemen, bahwa sektor informal merupakan katup pengaman penyediaan lapangan kerja dan statemen tersebut merupakan prime mover digalakkannya sektor informal oleh masyarakat luas.Termasuk sektor informal adalah : pedagang kaki laima,pe – dagang asongan, warung tegl,ojeg,angkot,salon dan sebagainya. Istilah katup pengaman aslinya dari Soeharsono Sagir,Staf Ahli Ekonomi Menaker /
6) Krisis Ekonomi yang dimulai oleh Krisis Moneter – Perbankan, 11 Juli 1997 tidak lain karena pemerintah lalai ”membaca ” warning dari Menko Saleh Affif ( Juli 1994 ) : ” Pertumbuhan Ekonomi Indonesia saat ini tergolong rapuh,hingga jika pertumbuhan ekonomi yang pesat dan tinggi akan menimbulkan overheated economy. Kondisi memanas tersebut terjadi karena suplai uang berlebihan,defisit neraca berjalan dan faktor lainnya,seperti : ekspor non migas cenderung menurun,harga minyak mentah merosot, sementara utang luar negeri makin semakin berat ( kewajiban membayar utang jatuh tempo, Sagir ) dampak depresiasi US $ terhadap Yen Jepang ”
7) Laporan Bank Indonesia April 1997, juga sudah memberikan warning sekaligus rekomendasi – sayang sudah terlambat untuk dilaksanakan – yang terdiri atas : Perlu menggalakkan tabungan dalam negeri,agar mampu membiayai investasi didalam negeri, tidak terlalu tergantung pada utang luar negeri dan investasi langsung ( PMA ) Perlu membangun sektor Moneter – Bank yang prudent dan handal Perlu memperkuat fundamental makro – ekonomi Perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia ( SDM ) Perlu membenahi aparat Birokrasi yang bersih, clean government yang bebas dari Korupsi,Kolusi dan Nepotisme ( KKN ) /
8) Social Net Strategy / How to escape from Poverty ( Policy Against Poverty ) yang dicanangkan Bank Dunia 1991, adalah : Pengaturan Kembali pemilikan dan pemanfaatan lahan ( agar tidak ada lahan yang ”tidur ” ),Memanfaatkan RISTEK disektor pertanian,Menggalakkan tabungan dalam negeri, Fasilitas Kredit Usaha Tani,Nelayan, Mikro, Kecil, Menengah, Koperasi ( UMKMK ), Pembangunan Desa Terpadu, Pemberadyaan Usaha Kecil Rakyat,Cottage Industry; Keberpihakan Birokrasi – khususna PEMDA – dalam pemberdayaan Ekonomi Rakyat, melalui kemitraan usaha dengan dunia bisnis mikro,sektor riil /
9) Ada Tiga Strategi Pembangunan Ekonomi yang dikenal pada saat ini,ialah : Employment Strategy, Triple Track Development Strategy dan Human Basic Needs Strategy, yang fukosnya Pembangunan Sumber Daya Manusia : Semua macam investasi Negara,Swasta dan asing wajib menciptakan Kesempatan Kerja Produktif , kesempatan kerja yang memberikan pada tenaga kerja mampu hidup layak, Triple Track Staretgy : Pro Poor, Pro Job dan Pro Growth ; Investasi termasuk Human Investment ( DIKLAT ) harus mampu untuk mengentaskan kemiskinan, setiap investasi harus lebih banyak menciptakan peluang kesempatan kerja dan sekali gus mendorong pertumbuhan ekonomi ( economic growth ) hingga benar – benar menaikkan pendapatan masyarakat dengan lebih merata. Creating Productive Employment, padat karya produktif,mampu memberikan upah yang layak , Investment reallocation , sektor pertanian berhak memperoleh alokasi kredit yang lebih besar daripada sektor lain, perbaikan gizi keluarga miskin,pelayanan kesehatan dan lingkungan hidup sehat serta memperoleh kesempatan belajar yang bermutu. Dalam masalah Kemiskinan, Kesempatan memperoleh kehidupan yang sehat dan bekal pendidikan berkualitas , sehingga kehidupan dimasa depan akan menjadi lebih baik dan berkualitas – Fakultas Ekonomi UNPAD, – patut ber – BANGGA karena para Guru Ekonomi UNPAD , Besar maupun Kecil sangat konsern terhadap Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia,yang dimulai dengan asupan GIZI berkualitas(Sutyastie Sumitro) Tanggung Jawab Sosial Perusahaan pada lingkungan ( CSR, Dwikartini Yahya ), Pembinaan dan Pengembangan Sektor Ekonomi Riil dan Informal ( Hidayat, Harlan Dimas, Ina Primiana ), Pengembangan Koperasi ( Yuyun Wirasasmita,Sutaryo Salim ) , Pengembangan Manusia Modal – Intelektual untuk unggulan daya saing, kunci keberasilan pembangunan ( Ernie Sule ), Pengembangan Kewirausahaan dikalangan Perguruan Tinggi ( Suparman Sumahamijaya, Yuyun Wirasasmita dan berlanjut dengan Yuyus Suryana ) Inilah Unggulan FEKON UNPAD sebagai School of Economics yang memiliki ciri khas : Bina Mulia Hukum dan Lingkungan Hidup dengan kepedulian tinggi pada Rakyat Kecil sesuai dengan Amat Penderitaan Rakyat,yang ingin bebas dari Kemiskinan, Kebodohan dan Ketergantungan pada Bangsa atau Lembaga lain diluar negeri.Bangsa yang bebas dari kendala kemiskinan,kebodohan dan terpuruk ekonominya, tertinggal di landasan. Demikian kuliah kenangan saya untuk Alma Mater Fakultas Ekonomi UNPAD yang saya dambakan sebagai ” PADJADJARAN SCHOOL OF ECONOMICS ” unggul dalam Kompetensi Manusia Modal, Kecendekiawanan dan Kewirausahaan. Generasi Ernie Tisnawati Sule , dan generasi selanjutnya Nama Padjadjaran School of Economics akan kita pertaruhkan,sebagai School of Economics sehingga mampu bersaing dan MENDUNIA. Terimakasih saya ucapkan atas perhatian dan kesabaran Bapak, Ibu dan Saudara – saudara. Wass.W.W. Bandung, 17 Januari 2009 Pensiun FE UNPAD 1 Febrari 1999 ( 1958 -1999) Guru Ekonomi Manula ( 1999 – 2008 )

Bukannya Soeharsono Sagir ini melakukan plagiarism di harian pikiran rakyat, bandung? Kok, tidak ada sanksi? Setahu saya, dosa terbesar di kalangan pendidik adalah plagiarism dan oarng ini tidak dikenakan sanksi? memalukan..Bayu perwita dipecat dari unpar, kok Unpad tidak beri sanksi untuk plagiarist soeharsono sagir dan nina loebis? Tolong, unpad benahi…